DENDAM SI GADIS PENJUAL PUTU CANGKIR

Oleh : Muh. Syaiful Gani

E:\My Pictures\My Pictures\fotoQ\Kayako.jpg

Sekarang aku berada dekat rumah kenalanku Akbar dan Firman setelah beberapa menit yang lalu kukunci pintu rumahku dan mengendarai motorku menuju rumahnya di desa Bontoa, desa tetangga tempatku tinggal. Pembatas desa kami hanya sebuah jalan sepi dengan sawah yang menghampar luas di salah satu sisi jalan. Sementara sisi lainnya adalah tembok setinggi hampir dua meter yang menjadi pagar dari sebuah menara pemancar radio nasional. Panjang jalan ini mencapai kira-kira tiga ratus meter dan menjadi jalur singkat penghubung desa Cemangi dan desa Durian tempatku tinggal. Dan sekarang, aku berada diujung jalan ini menunggu kedatangan mereka menjemputku.

Akbar dan Firman mengajakku berkunjung kerumahnya setelah kami berkenalan tadi pagi di sebuah permandian umum di desa tetangga. Kami langsung akrab setelah mereka berdua melihat dan memuji kemampuan berenangku. Aku sempat mengajari mereka cara berenang yang baik dan benar. Mereka berdua sangat senang mendapat pengalaman baru setelah berkenalan denganku. Saat itu Akbar mengajakku kerumahnya dengan nada serius, “berkunjunglah kerumahku malam ini untuk makan malam, aku akan meminta ibuku untuk membuat kue putu cangkir yang terkenal didesa kami, kamu pasti akan menyukainya”. Aku menanggapi dengan senang dan bersedia berkunjung kerumahnya, “baiklah, kedengarannya menyenangkan, aku akan datang setelah sholat maghrib”.

Kami sepakat untuk bertemu di ujung jalan ini setelah waktu maghrib. Meski aku belum tahu rumah mereka dimana namun, jalan yang sepi ini mengingatkanku pada sebuah peristiwa tragis sebulan lalu. Peristiwa pembunuhan terhadap seorang gadis cantik penjual putu cangkir. Jasadnya ditemukan dalam keadaan anggota tubuh yang terpotong menjadi beberapa bagian. Menurut cerita, hal itu terjadi karena kasus hubungan gelap. Aku juga sempat datang dan melihat proses evakuasi mayatnya setelah orang-orang ramai berteriak saling memanggil “ada mayat, ada mayat di pemancar” sambil berlarian menuju ketempat kejadian peristiwa. Kabar yang tersebar begitu cepat karena keberadaan ponsel. Orang-orang yang mendengar kabar itu heboh dan saling memberitakan. Beberapa wartawan televisi lokal juga hadir setelah mendengar kabar itu dengan tujuan meliput peristiwa yang sangat mengenaskan itu. Hingga akhirnya, beritanya menjadi buah bibir orang-orang untuk beberapa waktu. Bahkan, setelah beberapa hari berlalu sempat timbul rumor yang mengatakan bahwa beberapa orang yang melintasi jalan ini melihat penampakan sosok gadis cantik itu pada malam hari tertentu.

Aku masih berdiri disebelah motorku sambil memperhatikan beberapa kendaraan yang melintas. Berharap Akbar atau Firman segera datang menjemputku kerumahnya. Namun, setelah menunggu beberapa menit aku mulai gelisah menunggu mereka yang belum juga nampak. Angin dingin dari arah persawahan berhembus menghampiri tubuhku yang hanya mengenakan baju kaos dan celana pendek. Tubuhku merinding setelah beberapa kali hembusannya mengenaiku. Pikiranku semakin kuat mengingatkan dengan rumor yang beredar itu. Aku yang tidak suka dengan kegelapan mulai dihantui oleh perasaan-perasaan yang tidak enak dan semakin teringat dengan cerita orang-orang yang mengatakan penampakan yang muncul itu meminta kembali potongan-potongan tubuhnya yang dipotong terpisah-pisah.

Aku mencoba membuang perasaan yang membuatku semakin merasa kedinginan ini. Kucoba merogoh kantongku dan kukeluarkan ponselku untuk mencoba menghubungi Akbar atau Firman. Namun, entah kenapa tidak satupun dari mereka yang mengangkat telponku. Aku memutuskan untuk menunggu dan berharap kalau mereka sedang dalam perjalanan kemari. Aku tidak mau mereka kecewa karena sudah menyiapkan makan malam untukku sebagai rasa terima kasih mereka telah mendapatkan pengalaman baru dariku.

Beberapa kali aku menghubungi mereka melalui ponselku namun, belum ada yang mengangkatnya. Kondisi jalanan mulai sepi bahkan waktu menunjukkan hampir memasuki waktu shalat isya. Dari sekian kendaraan yang melintas pada pertigaan jalan ini pun belum kutemukan wajah yang kukenali. Aku mulai merasa jengkel dan kesal pada si Akbar yang tadi sudah memastikan akan menjemputku diujung jalan ini. Hal itu ia sampaikan melalui balasan sms yang ia kirimkan padaku sebelum berangkat dari rumah tadi. “Tolong jemput aku diujung jalan desa ya”, pintaku. Bahkan, aku sempat menelepon dan memastikan kunjunganku kerumah mereka usai sholat maghrib “Aku harap tidak akan merepotkan kalian, aku akan berangkat sekarang ya”. Akbar menjawab dengan semangat dan antusias seolah tak ingin kecewa, “tentu saja tidak merepotkan, ibuku sudah menyiapkan semuanya, aku hanya perlu membantunya menyelesaikan kue putu cangkir yang sedang dibuatnya, hati-hati ya”.

Perasaanku semakin tidak enak menunggu dijalan sepi dan lumayan gelap untuk dihampiri sesuatu yang tidak kuinginkan. Pikiranku pun semakin kacau dan aneh, bahkan ketika angin berhembus terasa seperti ditiup oleh seseorang tepat pada tengkuk leherku hingga aku merasa merinding kedinginan begitu saja. Aku berusaha menghubungi mereka lagi melalui ponselku. Aku berusaha mendengarkan bunyi panggilan ke nomor ponsel Akbar ditelingaku. Namun, perasaanku tiba-tiba menjadi sangat peka sama seperti Peter Parker si Manusia laba-laba ketika pertama kali digigit oleh laba-laba percobaan yang memberinya kekuatan. Berbagai suara terdengar sangat jelas dan makin menakutkan. Salah satunya adalah suara pekikan burung hantu yang melintas beberapa meter diatasku namun, terdengar sangat jelas ditelingaku yang masih tertempel ponsel seolah memberi pertanda akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Suara pekikan burung hantu yang tajam dan hanya terdengar sekali saja menurut nenekku adalah pertanda hal buruk akan terjadi. Nada panggil dari ponselku tak dapat kudengar lagi.

Aku seperti tak sadarkan diri berdiri mematung setelah mata kepalaku mengikuti kemana burung malam itu terbang. Suara-suara yang barusan masih terdengar jelas kini menjadi sunyi senyap tanpa suara. Aku bahkan lupa dengan tujuanku datang ketempat ini. Perasaanku menjadi semakin kalut dan merasa kedinginan yang tiba-tiba. Bulu yang tumbuh pada tubuhku kurasakan berdiri tegak merasakan hawa dingin yang menusuk. Bulu yang paling kurasakan adalah yang tumbuh pada bagian belakang tubuhku. Sangat terasa saat mulai bersentuhan dengan bajuku yang mulai basah oleh keringat dingin yang mulai mengucur pada tubuhku. Dalam waktu singkat kurasakan geli dan merinding seperti seekor binatang berbulu sedang berjalan disekujur tubuhku.

Suara binatang malam terdengar jelas saat aku merasakan tubuhku semakin kedinginan. Ujung jalan ini seolah membawaku ketengah. Aku berfikir, “mungkin aku sedang berhalusinasi saja”. Lalu sebuah bayangan seolah mendekatiku dengan sangat cepat. Semakin dekat seperti ingin melahapku dengan kegelapannya. Bayangan hitam seperti tangan yang panjang muncul dari tengah kegelapan dari arah sawah yang luas. Barisan kuku-kuku yang tajam menarik dan mencengkeramkan kukunya pada wajahku yang semakin memucat dibalik awan malam yang pekat. Bulan pun bersembunyi seakan enggan untuk menyaksikan apa yang akan terjadi padaku. Seketika aku merasa semakin kaku dan tak bisa bergerak bahkan untuk mengeluarkan suara. Ingin rasanya berteriak sekeras dan sekencang mungkin untuk meminta tolong. Namun, mulutku seperti dibungkam oleh sesuatu yang teramat besar mengisi penuh didalamnya.

Sekejap aku merasa seperti seorang tereksekusi mati yang dipasung dengan sesuatu yang sangat berat pada masing-masing kaki dan tanganku. Sedangkan, kepalaku ditutupi dengan sesuatu yang kurasakan seperti karung goni dengan teksturnya yang kasar dan kuat namun terasa sangat dingin. Aku tak bisa melihat apapun kecuali hanya gelap. Mulutku tak lagi bisa mengeluarkan suara karena dipenuhi sesuatu seperti kain basah dan lembab. Baunya tercium seperti makanan basi atau mungkin bangkai hewan yang membusuk hingga membuatku kesulitan bernafas seolah berusaha membungkam mulutku agar tidak terdengar oleh siapapun.

Aku merasakan hawa dingin pada sekujur tubuhku. Dari tanganku yang masih memegang ponsel dapat kurasakan hawa dingin itu semakin menyelimutiku. Aku lalu mendengar suara erangan seperti orang yang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Dapat kurasakan bola mataku bergerak kekiri dan kekanan dalam kegelapan mencoba mendengarkan suara itu. Namun, suara erangan kesakitan itu semakin mengecil. Aku tak bisa kemana-mana dan tak bisa melakukan apapun. Air mataku terasa hangat menetes diwajahku yang mengkerut karena tak berdaya. Perlahan kudengar suara erangan kesakitan itu berubah menjadi isak tangis yang terdengar sangat menyedihkan dan terasa menyayat hati. Namun, aku tak bisa berbuat apa-apa selain hanya mendengarkan suara-suara aneh. Tangan dan kakiku kurasakan seperti ada yang memegang dan menahan dengan sangat kuat agar tidak bisa bergerak. Dapat kurasakan tangan yang sangat dingin menyentuh bagian kakiku yg mencoba berontak. Rasanya aku tidak dibolehkan bergerak sedikitpun. Tangan-tangan dingin itu mencengkeram lebih kuat dan kurasakan sakit yang amat sangat tiap kali mencoba berontak. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati “semoga ada seseorang yang melintas dan menolongku keluar dari kegelapan yang menyiksaku dan membuatku tak berdaya ini”.

Seketika kurasakan tangan itu melepas benda dingin seperti karung goni basah yang menutupi kepalaku. Namun, aku belum bisa melihat apa-apa kecuali gelap. “Mungkinkah aku sudah mati?”, pikirku. Pada wajahku dapat kurasakan sebuah benda digariskan dari sudut mata kananku melewati tulang pipiku hingga kebawah daguku. Benda itu terasa seperti ujung sebuah besi yang sangat tajam. Kurasakan dingin tiap kali menyentuh kulit wajahku. Aku tak bisa melihat apa yang sedang terjadi atau siapa yang melakukan perbuatan ini. Namun, yang kurasakan kemudian pada bekas garis itu adalah perih seperti telah disayat. Kurasakan benda itu berulang-ulang membuat garis diwajahku begitu juga kurasakan perih yang mengikuti pada setiap bekasnya. Wajahku memang sepertinya sedang disayat-sayat. Dapat kurasakan tetesan hangat yang mengalir pada wajahku. Bisa kupastikan itu adalah darah akibat luka sayatan. Hawa dingin kurasakan kian menusuk pada batang tubuhku yang tak berdaya. Beberapa kali aku merinding merasakan sakit dan kedinginan. Aku sungguh tak mampu berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah pada apa yang menimpaku. Seandainya aku akan dibunuh maka, aku ingin sekali meminta agar aku langsung dibunuh saja dan tidak perlu menyiksaku.

Dalam ketidak berdayaanku itu, tiba-tiba terdengar suara samar yang kupastikan bersumber dari ponselku. Dengan nada cemas dapat kudengar, “halo…!!!, kamu dimana? Kenapa lama sekali?, aku menunggumu diujung jalan daritadi”. Suara itu terdengar semakin jelas dari ponsel yang masih berada digenggamanku. Aku lalu tersadar dan kurasakan tanganku agak berat mengangkat ponsel itu kearah telingaku. Kurasakan tanganku masih sedikit kaku mencoba menjawab suara panggilan pada ponselku itu. Seluruh tubuhku pun terasa sangat lemah tak berdaya. Dengan sisa tenaga dan suara yang lemah segera kujawab, “aku ditengah jalan, tolong segera kesini”. Tanpa mengakhiri pembicaraan dapat kulihat cahaya samar kendaraan yang menuju kearahku dengan cepat. Aku merasa sangat lemah dan lalu kemudian terjatuh ketanah berdebu yang mulai lembab oleh embun malam. Aku terbaring tak berdaya dan tidak bisa mengingat apa-apa lagi ditengah jalan yang merupakan jalan penghubung antar desa ini.

Keesokan harinya, aku mendapati diriku dalam keadaan terbaring disebuah kamar yang cukup nyaman dengan kelambu berwarna putih transparan yang membungkus tempat tidurku. Aku mencoba bangun dan melihat kesemua arah kamar yang cukup luas ini. Aku mencoba keluar dari kelambu sembari memegang kepalaku yang masih terasa berat. Lalu, samar tercium aroma kue penganan yang terbuat dari gula merah dan tepung beras yang dikukus. Aku segera bangkit dan mencari sumbernya bak seekor kucing kelaparan yang mencium aroma ikan segar. Aku sangat yakin bau khas ini adalah aroma dari kue Putu Cangkir.

Begitu aku menyibak tirai pintu dan keluar dari kamar kutemukan Firman dan Akbar memandangiku sambil memamerkan gigi depannya yang mencoba menyambut pagiku dengan ceria setelah melewati malam yang sangat mencekam. Cangkir yang ada pada tangan Firman kemudian diletakkan dan mengajakku ikut bergabung sambil menepuk kursi sofa berwarna hijau yang sedang didudukinya, “mari duduk disini, kamu pasti masih sangat kelelahan”. Aku membalas senyum mereka dan mendekat duduk pada kursi sofa yang empuk itu. Ia lalu menceritakan kejadian yang menimpaku semalam sambil memijit ringan punggungku yang masih terasa sedikit kaku “menurut cerita orang-orang, itu adalah penyiksaan yang dirasakan oleh gadis penjual putu cangkir sebelum akhirnya tubuhnya dipotong-potong”. Akbar melanjutkan cerita dengan nada serius, “gadis itu disiksa kemudian dibunuh oleh laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya karena telah menghamilinya”. Ia melanjutkan lagi setelah menyeruput kopi pada cangkirnya, “setelah dihamili gadis itu hanya mendapat janji-janji palsu dari sang lelaki setiap kali diminta untuk bertanggung jawab malah akhirnya mendapat siksaan yang luar biasa lalu dibunuh secara tragis”. Firman yang juga memasang wajah mengkerut serius melengkapi cerita, “beberapa orang mengatakan itu akibat rasa dendamnya yang terlalu dalam yang membuatnya mampu membuat orang yang melintasi jalan penghubung desa merasakan penyiksaan yang dialaminya pada malam tertentu”. Sambil mengarahkan tangannya padaku yang terlihat serius menyimak cerita, Firman mengagetkanku dengan suara yang agak ditekan “nah…kamu menjadi salah satu orang yang terpilih untuk merasakan penderitaannya itu”. Mengingat malam itu, rasanya aku benar-benar dapat merasakan penyiksaan yang dialami gadis itu serta dendam yang dirasakannya.

Sambil mencoba mencicipi kue putu cangkir yang ditawarkan Akbar padaku. Aku mendengarkan mereka dengan serius. Akbar melanjutkan pembicaraan, “kamu sangat beruntung karena hanya merasakan sedikit dari siksaan yang dialami gadis malang itu”. Firman menambahkan lagi, “menurut kabar, orang yang terpilih untuk merasakan penyiksaan gadis itu tidak akan hidup lama setelahnya, kalaupun ada yang selamat kabarnya hanya terbaring sakit sehari-semalam lalu kemudian baikan lagi”. Sambil menunjuk kue putu cangkir dimeja ia melanjutkan, “kemudian saat terbangun di pagi hari akan langsung mencari kue ini”. Akbar melanjutkan, “makanya aku meminta lagi ibuku membuatkan kue ini untukmu, meski kami juga tak tahu apa alasannya mereka mencari kue ini”, sambil tersenyum syukur.

Entah kenapa rasanya sedikit aneh dan penasaran mendengar cerita mereka berdua. Namun, kue yang dimaksud benar-benar membuatku merasa kelaparan dan ingin menghabisi semuanya setelah menghabiskan yang ada ditanganku. Aku tidak peduli lagi dengan cerita mereka kecuali perutku yang terasa sangat lapar meminta diisi lagi. Sambil membalas senyum mereka aku berkata, “maaf…, boleh saya habiskan kue putu cangkirnya? rasanya enak sekali”. Mereka tertawa seolah rasa cemasnya hilang mendengar permintaanku. “Silahkan, didapur masih ada koq”, Akbar terlihat sangat senang menjawabku. Dapat kurasakan hangat cahaya matahari pagi yang menembus jendela ke ruang tamu tempat kami berkumpul. Rasanya senang sekali akhirnya bisa bertemu dan tidak mengecewakan mereka. Kami pun tertawa bersama sambil melanjutkan cerita. Tak terasa berapa buah sudah kue putu cangkir yang sudah kulahap.

Aku sangat bersyukur telah melewati kejadian yang dapat kupastikan tidak seorangpun mau merasakannya. Termasuk si gadis penjual putu cangkir itu. Saya hanya berharap semoga pelakunya mendapat balasan yang setimpal dan arwah gadis itu bisa tenang dan berhenti menampakkan diri dan menyiksa orang tak bersalah yang melintas dijalan penghubung desa itu.

Sekian…